Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Posted by Maydina Z on Oct 8, '11 1:58 PM for everyone

Aku masih ingat di kala aku menginjakkan kaki di instansi negeri itu. Kala itu aku diharuskan berkenalan dengan ubuntu dan open source lainnya (bahkan hingga kini). Bagiku, it's not problem...sebab bagiku berkenalan dengan hal-hal baru adalah menarik, meski jika ditanya kembali hingga kini, komputer apa yang paling kamu suka? Atau software apa yang paling kamu sukai? Maka kan kujawab : Mac dan Adobe.

It's ok dengan ubuntu, it's ok dengan open source, it's ok dengan GIMP n inkscape.. Dan setelah mengenalnya lebih jauh malah kini, kalau sekedar mengetik dan online, aku terbiasa menggunakan blank_on sajadah dan open office.org. Namun tetap aku tak dapat pindah ke lain hati kalau ditanya hal seperti di atas. Jawabanku masih dua hal itu.

Kenapa? Karena sejarahku mengenal komputer untuk pertama kalinya adalah melalui mac LC-475...












Kenapa? Karena aku beranjak dewasa bersama mereka..sehingga kebiasaan (habit) berubah menjadi budaya. Sama halnya keharusanku membuat laporan/tulisan perjalanan jikalau liburan sekolah keluar kota saat masih kecil hingga beranjak dewasa, disadari atau tidak, terbawa hingga kini.

Aku masih ingat kala masih sendiri dan belum punya adik. Jikalau sepulang bermain dengan teman-teman hanya buku, boneka, dan mainan yang menemaniku. Lalu suatu ketika, kuberkenalan dengan mesin yang berbentuk kotak yang disebut komputer dan pasangannya printer. Namanya adalah Mac LC-475.

Benda itu hadir di rumah karena informasi bahwa akan ada pelajaran komputer di SMP sehingga akan lebih baik jika punya komputer untuk latihan di rumah.

Akan tetapi saat benda itu hadir di rumah, awalnya aku sebal. Mengapa? 

Bayangkan ternyata pelajaran komputer di sekolah tidak bisa diterapkan pada komputer yang kumiliki di rumah. 


Ejekan dari beberapa teman yang mengatakan komputerku 'aneh'. Istilah aneh itu muncul karena:

  1. Disket di sekolah yang dipakai besar dan tipis, sedangkan komputerku di rumah menggunakan disket yang kecil dan tebal.

  2. Pelajaran komputer yang kupelajari di sekolah tidak bisa kuulang lagi di rumah, sebab saat menyalakan komputer tidak ada tampilan warna biru dan penggunaan bahasa komputer yang rumusnya harus dihafalkan seperti di sekolah

  3. Desktopnya berbeda.

Malah saat windows pertama kali muncul, aku yang seperti orang udik dan malah bertanya: 'Kok pas dinyalakan layarnya hitam dan muncul bahasa-bahasa aneh, baru muncul gambar desktopny?'

Lalu kenapa ketikan yang kukerjakan di rumah dan kemudian disimpen ke disket, saat dibuka di komputer sekolah malah ancur jadinya. Fiuuh..bisa dibayangkan mo nangis rasanya...Punya komputer di rumah, tapi giliran ada pe-er pelajaran komputer, mau gak mau nglembur ngerjain di sekolah, sepulang sekolah alias minjem komputer lab komp, jadi buat apa punya komputer tapi gak bisa ngerjain tugas komputer di sekolah padahal kan dulu beli komputer tujuannya untuk itu.

Kekesalanku itu pernah memuncak karena capek, hingga suatu ketika aku ingin tuker tambah aja tuh komputer dengan model yang seperti di sekolahan, tetapi Ayahku tidak mau dan selalu menguatkanku bahwa meski berbeda tetapi justru punya banyak kelebihan, bisa ngegambar dan mengetik lebih mudah bukan? Perkara bisa menggunakannya atau tidak diatasi selanjutnya dengan les. Les Aldus Page Maker, Freehand, dan Word Perfect. Setelah mengenal dan bisa menggunakannya dengan baik, dan dianggap aneh bin ajaib, ternyata komputer itu menyenangkan. Kenapa tidak? Aku jadi suka membuat kartu undangan, kartu nama, etc' dan Word Perfect yang bisa dipakai mengetik, disamping permainan yang ada di dalam komputer.

Lama-kelamaan aku menyenanginya... mulai dari gambar2, buat kartu ucapan untuk ayah-ibu, dan tempat mencurahkan isi hatiku (untuk curhat yang pribadi, aku buat passwordnya hehehe #masih inget gak ya kini passwordnya?)

Dari situlah aku mengenal komputer...Dari situlah aku merasakan pengalaman teknologi yang menyenangkan dan mengedukasi. Teknologi dalam arti sebenarnya (versi filosofiku), memudahkan pekerjaan manusia.. Technology as process. Dan hingga sekarang Mac/Apple menunjukkan kekonsistenannya dalam bentuk, desain, dan experience yang ditawarkan.

Namun pernah juga terjadi, aku keawalahan saat mencari sparepartnya, yaitu di kala perusahaan Apple sedang jatuh dan microsoft sedang menanjak naik.

Satu-satunya kasus masalah komputerku itu cuma monitor (ternyata 'batereinya harus diganti' kata om Danny dulu), setelah itu hingga kini tidak pernah bermasalah (tuh komputer jadul masih bisa digunakan, padahal udah berusia 16 tahun (wah udah remaja tuh harusnya hehehe)

Om Danny itu adalah (teknisi komputer macku, sejak dahulu ia masih kuliah di Budi Luhur hingga kini ia memiliki toko komputer di Ambassador...Mulai dia bekerja di afiliasi Mac Indonesia kala itu, hingga beralih ke windows, etc ).

Waktu itu sempat ditawarkan olehnya untuk dijual dan diganti dengan windows saja (kala itu windows lagi booming). Akan tetapi aku bersikeras tak mau, sebab terlalu banyak memori di situ. Jadi kalau ingin melihat karya maydina kecil hingga abg yang gak penting, ada di situ. Salah satu karya yang kubuat saat kesal di saat dimarahi nyokap, adalah gambar dan tulisan 'Awas mama lagi galak!' huahaha... ibuku yang suatu hari menemukan karyaku itu hanya ketawa.

Kemudian di kala Steve Jobs dengan Mac dan Ipodnya kembali booming, kupikir itu layak untuknya. Mengapa? Kerja kerasnya untuk bangkit, kekonsistenannya dalam berkarya dengan pattern dan layout yang mementingkan experience penggunanya adalah nilai tambah tersendiri. Value yang sangat kerasa adalah ia membuat sebuah perangkat komputer yang bisa digunakan oleh anak kecil bahkan orang tua sekalipun (user friendly). Karyanya mencerminkan dirinya..Karakter thoughtnya, inovasinya, berani berbeda, trendsetter, cita rasa estetisnya, cinta dan experience tidak berubah dari dulu hingga sekarang. Justru dengan cobaan yang pernah ia terima dahulu saat down, membuatnya bangkit dan lebih berusaha untuk menjadi yang terdepan dalam teknologi.

Jadi jelas bukan? Kalau ada kembali yang bertanya komputer apa yang kamu suka?Dengan pasti dan tegas kukatakan 'Mac..'. Dan software apa yang kamu suka? Adobe. Mengapa? Karena mereka bagian dari sejarah hidupku yang penuh cinta di dalamnya..pertama kali kumengenal komputer...pertama kali ku mengenal dunia grafis dan pertama kali ku mengenal istilah mengetik di komputer dan pertama kali ku pernah curhat mengenai 'first love'ku saat SMP huahaha ;P

Ubuntu dan Blank_On Sajadah memang menarik dan sempat membuatku melirik mereka..Windowspun bisa menjadi teman yang baik bagiku..tetapi hatiku sulit pindah ke lain hati selain Mac-Apple...karena disitulah aku mengenal Teknologi sebagai proses inovasi. Bukan sekedar ikut-ikutan, tetapi bagaimana bisa berbeda, kreatif dan inovatif tanpa peduli apa kata orang lain yang kadang mengkritik. Mac-Apple mampu membuktikannya.


Mengapa aku membuat tulisan ini?

Untuk memudahkan adik-adik yang sedang menjalani mata kuliah 'Difusi Inovasi' untuk memahaminya...

Dalam contoh kasus dari pengalaman aku di atas terlihat jelas saluran difusi kala itu yaitu: komunikasi dari Ayahku ke aku. Mungkin kalo tidak dikuatkan kala itu, aku bisa menyerah! Tapi karena Ayahku memiliki pengaruh yang kuat padaku sebagai influencer kala itu, maka aku berusaha menerima inovasi itu. Inovasi yang memiliki ciri sesuatu hal yang baru pada awalnya memang sulit diterima banyak orang pada awalnya. Lihat saja kala aku yang sulit menyesuaikan diri dengan itu mac dan pelajaran komputer di sekolah yang tidak seperti yang diharapkan,

Begitupun sang inovator Eyang Steve Jobs dengan mottonya 'stay foolish, stay learn'. Mungkin kalo waktu itu ia menyerah saat Apple-Mac sempat jatuh, apakah ada produknya kini yang lebih inovatif? Yang kini digandrungi dan menjadi trendsetter? Kekonsistenannya untuk tetap berinovasi dan mendifusikan penemuannya dengan saluran-saluran komunikasi yang efektif menjadi salah satu pondasi kokoh bagi ia dan pribadinya, sehingga tidak salah jika karakter Steve Jobs sangat melekat dengan Mac. Jadi apakah kamu sanggup dan berani menjadi seorang inovator? Berani tegak berdiri disaat orang-orang menghujatmu, menanggap ide kamu nggak mungkin tapi tetap konsisten menjalankan strategi dan menjalankan ide kamu itu? Tidak sekedar ide, tetapi juga terimplementasikan dalam bentuk proposal konsep bahkan kalau perlu hingga jadi?

nb: tulisan ini sebenarnya dibuat pada tanggal 6 Agustus 2011, tetapi karena belum sempat, baru di-posting sekarang... Hiks.. sedih pas tahu Eyang Steve Jobs telah tidak ada...meskipun begitu semoga semangat inovasi dan kreativitas beliau tetap ada di diri kita semua... Eyang Steve Jobs seperti Leonardo Da Vinci, seniman yang juga ilmuwan.. yang memiliki keseimbangan otak kiri dan otak kanan 


In Memorian...Steve Jobs.... one of my inspiration 


Add a Comment